Motif Berwirausaha Di Masa Muda


#PART2

Apa sebetulnya yang menggerakkan orangorang untuk memiliki usaha sendiri alias menjadi seorang wirausahawan? Dan bagaimana motif.untuk berwirausaha itu muncul? Adakah hambatannya?

Pertanyaan ini kerap muncul ketika kita telah mengetahui kesuksesan yang diterima seseorang begitu muncul dalam televisi, buku atau majalahmajalah. Pengakuan (recognition) itu bukan lah sesuatu yang mudah didapatkan. Di tengah kondisi ekonomi bangsa ini yang belum bisa dibilang normal sepenuhnya, siapa lagi yang berani menjadi wirausahawan? Dalam sebuah survey yang dilakukan pada para mahasiswa di Harvard Business School, 80% mahasiswa yang di wawancarai menyatakan bahwa mereka akan membangun bisnis sendiri kelak dengan satu alasan atau motif lust of power alias haus akan kekuasaan.

Mereka yakin bahwa jika saja mereka punya power, mereka dapat melakukan segala sesuatunya lebih lancar dan lebih efisien. Dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki mereka ingin merubah cara pengerjaan sesuatu apapun itu dengan caranya dan mereka tahu yakin akan berjalan dan memberi hasil yang lebih baik.

Kata power seperti disebut di atas, sebetulny.a juga cerminan dari rasa ingin mandiri. Mandiri dalam.sarti mendapatkan kebebasan , balk kebebasan mengontrol diri sendiri, mengatur waktu dan mengatur kegiatan-kegiatan bisnisnya sendiri. Berapa banyak yang menginginkan ini? Banyak. Ingin bebas atau mandiri merupakan akibat adanya keterkungkungan atau ketcrbatasan yang diterima ketika kita (mungkin saat ini sedang) .bekerja di kantor atau perusahaan. Rutinitas yang membosankan, kreativitas yang dihambat-hambat dan dimatikan, birokrasi yang panjang dan kaku, at au suasana kerja yang tidak enak, budaya (culture) perusahaan yang tidak cocok merupakan halhal yang bisa menciptakan motif dan mendorong orang untuk segera mencari kebebasan.

Contoh nyata seperti yang dilakukan oleh Ir. Nurdin Tampubolonl yang meninggalkan statusnya sebagai PNS Golongan III C, Eselon IV di Direktorat Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi, Deptamben. Alasannya adalah kungkungan b-irokrasi yang menghambat gagasan dan kreativitasnya, padalah ia merasa sebagai orang yang efektif dan efisien. Kini ia berhasil memba- '. ngun PT. Sonvaldy Utama Permata, memperkerjakan sedikitnya 200 orang dan memiliki 4 cabang di kota besar Indonesia dan 1 di Singapura.

Motif lain yang bisa mendorong orang untuk berwirausaha adalah untuk mendapatkan respek dan sekaligus citra sosial diri (social self image). Banyak entrepreneur ingin mendapatkan respek dari keluarga, ternan-ternan dan lingkungannya. Dalam sebuah pelatihan eksekutif dimana para peserta mulai memperkenalkan diri, beberapa peserta menyebutkan namanya, posisinya dan dimana mereka bekerja sekarang. "Saya Amir, Direktur pada PT. Bla ..Bla ..Bla ..(sebuah perusahaan ternama)" dan seterusnya, hingga pada salah satu peserta. "Saya Budi, saya pegawai dan owner pada PT. KLMNOP yang membuat dan mengekspor furniture bambu Indonesia" Dapat dirasakan bedanya kan?

Seorang Budi dengan perusahaan "kecil"nya, yang mungkin belum begitu dikenal orang, tetapi dengan bangga menyebut 'owner' pada jabatannya. Siapa pun akan respek padanya dan tentu saja citra sosial dirinya ikut terbawa. Saat ini di lingkungan kita, di Indonesia, telah banyak orang menduduki posisi puncak dari perusahaan-perusahaan yang ternama, tetapi bila kita mendengar ada 'Budi-budi' yang lain, rasanya memang kita harus angkat topi pada mereka, dan rasanya memang ada kelebihan si Budi dalam social image-nya dibanding dengan si Amir.

Memiliki mimpi atau cita-cita (goals) atau ." ambisi juga merupakan hal yang memotifasi orang untuk berwirausaha. Berapa banyak dari kita yang memiliki mimpi atau ambisi menjadi eksekuti£ puncak saat usia 35 tahun? Bercita-cita memiliki perusahaan sendiri dan berkantor di JL Sudirman? Bukan itu saja ambisi yang kelihatannya kecil, bisa jadi mampu mernbangkitkan semangat berwirausaha.


Ada contoh menarik dari seorang pemuda di Amerika. namanya Rick Hendrick, ia benar-benar berambisi dapat mengendarai dan memiliki mobil sendiri. Saat berumur 14 tahun, ia membeli sepeda motor seharga USD 250, padahal belum boleh punya SIM. Karena ambisinya yang besar pada umur 20-an ia mulai membeli satu dealer mobil dan tidak lama kemudian memiliki 22 dealer di 8 negara bagian. Keuntungan bersihnya mencapai USD 100 juta. Ketika Rick berusia 36 tahun, ia mulai menyukai road racing Chevies. Dan ambisinya mulai terealisasi, untuk kesenangannya ia mengeluarkan USD 4 juta untuk Chevy-nya2.

Begitulah, mimpi, cita-cita atau ambisi yang bisa dibilang hingga mendarah-daging, dapat menyebabkan seseorang terjun ke dunia wirausaha. Mengenai hal ini ada sebuah ungkapan yang baik: "if you have the strength to dream, you also have the strength to make the dream come true".

Apakah ada yang dapat mengurangi munculnya motif kita tersebut? Ya ada. Terutama adalah bayang-bayang risiko yang akan dihadapi begitu kit a putuskan untuk berwirausaha. Risiko itu berupa risiko finansial, seperti bakal tidak dapat gaji untuk beberapa saat, yaitu ketika bisnis be- .. lum lagi menghasilkan keuntungan.

Sebetulnya ini lebih pada financial sacrifice dibanding pada financial risk. Risiko yang lain adalah keluarga, karena akan banyak energi, emosi dan waktu yang akan dibutuhkan agar bisnis dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Juga risiko psikis, karena pada dasarnya perusahaan adalah mengelola manusia. Jadi akan banyak sekali waktu yang berhubungan- dengan manusia yang kompleks, maka kepercayaan diri menjadi penting. Satu risiko lagi yang bakal muncul adalah karir, tentu saja tidak akan ada perjalanan karir tahap bertahap seperti yang mungkin dialami saat bekerja pada sebuah perusahaan. Karena kini menjadi owner apalagi setelah ini? Risiko karir yang lain adalah jika -ini jika- kemudian gagal dalam berwirausaha tentu akan sedikit repot dalam me- , . nentukan jenjang karir (posisi) yang baru jika mendapat pekerjaan lagi.

Kini yang ada tinggal pilihan, kita tahu motif yang membuat kita menggebu-gebu menjadi seorang wirausahawan, tetapi kit a juga tahu risiko yang akan dihadapinya. Mana lebih kuat? Yang pasti butuh keberanian, kekuatan dan kepercayaan diri yang besar dalam menentukan pilihan menjadi seorang wirausahawan.

Seperti ungkapan tadi: "if you have the strength to dream, you also have the strength to make the dream come true".
  1.  Dari Buku "Seri Kekayaan yang Tersembunyi" - Buku 5, Kompas.
  2. "Entrepreneur, from zero to hero", Charles Banfe.
Silahkan kalian kunjungi Daftar isi 25 Langkah Menjalankan Usaha Yang Baik Dan Benar

Salam,
Abang Fortinus

Motif Berwirausaha Di Masa Muda Motif Berwirausaha Di Masa Muda Reviewed by Unknown on 5:23 AM Rating: 5
Powered by Blogger.